Pages

Sunday, November 30, 2008

Dua Kejadian yang Sangat Berharga!

Hari ini ada 2 pelajaran yang berharga sekali buat Gina. Bukan pelajaran formal, tapi pengalaman yang patut dijadikan pelajaran.

Hari Sabtu ini adalah hari terakhir UAS di SMAN 8 dan kebetulan kelas X kebagian jam siang (masuk jam 09.00 atau 10.00). Gina senang sekali karena hari ini hari terakhir dan hari Sabtu, jadi jalanan nggak macet gitu hehe
Hari ini Gina masuk jam 10.30. Jadi brangkatnya dari rumah jam 9an, biar bisa jemput Sarah dulu di Labschool.

Gina brangkat sama Kak Oi & Abang. Kali ini Kak Oi yang nyetir mobil karena si Abang lagi males (huehe). Gina duduk di sebelah sopir, kalo Abang duduk dibelakang.

Perjalanan kami bertiga ke Labs santai-santai saja, nggak ada hambatan apapun. Kami berputar di puteran Telkomsel dekat Labs. Kak Oi dengan santai masuk ke jalan utama (jl. Pemuda). Bagian depan mobil kami sudah masuk ke jalan utama dengan keadaan miring. Namun, tiba-tiba saja bagian kiri mobil Jazz merah yang kami kendarai disrempet Truk guede yang datang dari arah kiri dengan sekuenceng-kuencengnya!! Bunyinya keras sekali! Bahkan, mobil kami yg tadinya miring 15 derajat tergeser sekitar 20 derajat ke kanan!! Gina, yang duduk di sebelah sopir, ga tau kalo ada truk yang akan menyrempet mobil kami! Gina waktu itu lagi asik-asiknya baca handout Sejarah. Gina hanya ngerasain getaran yang kenceng banget! Akibat srempetan Truk itu parah! Kaca lampu depan mobil kami pecah, bemper depan penyok dan body samping mesin tergeser hingga nyaris lepas!
Kak Oi pun kaget. Entah salah siapa, tapi yang jelas mobil kami rusak parah.

Sesaat setelah kejadian itu Gina shock! Bayangin aja kalo misalnya saat itu mobil kami sudah stengahnya masuk ke jalan pemuda! Truk itu pasti akan menabrak pintu kiri depan! Dan orang yang terdekat dengan pintu mobil itu adalah Gina! Mungkin kalo itu terjadi, Gina sekarang masi di RS kali ya? Atau lebih parah lagi mungkin Gina uda mati!

Ckck, kejadian ini bikin aku ingat 1 hal bahwa nyawa kita bisa dicabut Allah kapanpun dan dimanapun. Trus, buat jadi pelajaran juga kalo orang yang duduk di sebelah sopir harus selalu membantu sang sopir dalam memperhatikan jalan.

Syukur alhamdulillah, kami bertiga selamat walaupun mobil kami jadi korbannya :)

yasu, akhirnya kami sampe di depan Labs dengan mobil yang BARU saja kesrempet dan Sarah bingung banget pas ngeliat hehe.

Sebenernya waktu dulu Gina juga pernah selamat dari kecelakaan. Kejadiannya juga hari Sabtu!

Jadi waktu itu hari pertama masuk kelas bahasa. Dan hari itu hari Sabtu. Jadi, jelas dong kalo jalanan ga rame!

Waktu itu Gina dianterin Papa. Jalanan yang ada di depan 8 tuh bener-bener sepii! Saat itu cuma ada mobilku doang.

Kami datang dari arah Tongtek ke 8. Sampe di depan tukang Cuci mobil, Papa minggir dan Gina pun siap turun. Setelah ngucapin salam ke Papa, Gina siap-siap menyebrang. Sbelumnya, aku clingak clinguk dulu. Saat itu ada banyak motor yang datang dari arah TK Garuda. Tapi dari arah Tongtek ga ada (jalanan kosong). Jadi Gina terfokus melihat ke arah kiri. Setelah motor-motor dari arah kiri itu lewat, Gina langsung melangkahkan kaki. Tapi tiba-tiba Papa berteriak keras. Teriakan itu membuatku takut dan menarik kembali langkahku. Kemudian, dengan refleks aku melihat ke kanan dan ternyata 'nguueeeeng'! Sebuah motor yang berlari sangat kencang lewat pas di depanku! Hatiku ga karuan, sementara Papa ngomel-ngomel dari mobil. Gina rada malu juga sih hehe abis di depan publik dimarahin! Tapi, coba kalo Papa nggak neriakin Gina? Mungkin Gina bakalan tetep nyelonong dan akhirnya ketabrak motor deh! Trus paling minim rusuk patah atau paling parah yaa 'dead'.

huhu semua kejadian itu selalu mengingatkan Gina bahwa nyawa kita bisa dicabut kapan saja. Oiya, ada cerita dari sahabat Rasul juga yang berhikmah sama.
Jadii, suatu pagi ada seorang pemuda yang bertanya pada penjual kain kafan yang sedang menyobek-sobek kain kafan
Pemuda itu bertanya, "Untuk apa kain kafan itu disobekin?".
Penjual kain kafan menjawab, "Mungkin saja nanti sore ada yang butuh".
Dan tahukah kamu bahwa pada sore harinya ternyata yang membutuhkan kain kafan itu adalah pemuda yang tadi bertanya. Di pagi hari dia sudah menemui kain kafannya terlebih dahulu. Dia tidak menyadari bahwa kain kafan yang sedang disobeki oleh penjual kain itu akan digunakan untuk badannya di sore harinya. Allahuakbar!

Dari pengalamanku dan cerita itu seharusnya menjadi reminder buat kita bahwa hidup kita tak ada yang mengetahui melainkan Allah dan Allah bisa mencabut nyawa kita kapanpun. Dan ingatlah bahwa setiap orang pasti akan mengalami kematian.

Maka dari itu, mari kita bertaqwa kepada Allah dan mengikuti Sunnah Rasul-Nya. ;)

Wednesday, October 08, 2008

Peringatan Hari Perdamaian Dunia

Well, SMAN 8 diundang untuk datang ke Istora untuk menghadiri Peringatan Hari Perdamaian Dunia. Karena beberapa minggu yang lalu kelas XA-XC sudah pernah jalan-jalan ke luar sekolah, jadi sekarang giliran kelas saya, XD, yang pergi bersama sebagian kelas XE. Jujur saja, sebenarnya saya nggak tau kalau ada hari "Perdamaian Dunia" (hehe). Okay then, let's talk about World Peace Day!

Sebenarnya, hari Perdamaian Dunia itu diperingati pada tanggal 21 September, tetapi acara ini justru diselenggarakan pada tanggal 23 karena Pak SBY, Presiden Indonesia, tidak bisa hadir pada tanggal 21. (Fyuuhh! Untung nggak jadi tanggal 21, kalo jadi, gue nggak bakal ikut! haha)

Nah, saya mau berbagi cerita nih. Yup! Selasa, 23 September 2008 adalah hari terakhir murid-murid SMAN 8 menjalani Mid Test. Hari itu kami, murid kelas XD dan XE pulang jam 10.00. Sekeluarnya dari kelas saya, seperti biasa langsung ke masjid, sholat dan mengaji (mengejar hattaman saya hehe karena masih bulan puasa).

Sekitar 1 jam kemudian, saya sudah mengaji 1 juz. Saya merasa bosan, ditambah lagi kondisi masjid yang sepi (kayak kuburan) bikin saya ngantuk. Akhirnya saya menghubungi teman saya, Rani. Ternyata dia berada di Ruang Musik. Saya beranjak ke sana dan bermain bersama di sana.

Jam 13.00, kami berangkat. Kami berangkat dengan sebuah bus Angkatan Laut yang panas, tidak ada AC-nya. Tapi panasnya matahari mulai tidak terasa saat kami sekelas tertawa riang. Sekitar jam 14.30 kami sampai di Istora Senayan.

Di lapangan parkir Istora, saya melihat banyak sekali veteran (berbaju jingga kekuningan dengan topi miringnya). Kami masuk ke gedung Istora tersebut. Sebelum masuk, kami melewati sistem pengamanan yang cukup ketat. Tas kami diperiksa menggunakan sinar-Gamma, seperti yang ada di bandara. Kami pun juga ikut diperiksa. Seusai diperiksa, kami berkumpul di depan toilet (huehehe). Pak Roni memberikan instruksi kepada kami. Lalu, barulah kami semua masuk ke gedung Istora.

Begitu menginjakkan kaki di gedung tersebut, semburan angin dari AC langsung menerpa kami. Lagu 'The Greatest of Love'' yang sedang dinyanyikan membuat saya ikut bersenandung. Kemudian, kami mencari tempat duduk.

Kami duduk sekitar 1 jam, menunggu Pak Presiden yang ternyata tidak datang on time (-__-). Setelah Pak Presiden datang, acara pun dimulai. Lagu Indonesia Raya dikumandangkan sebagai Lagu Pembukaan. Sambutan pun diberikan oleh perwakilan dari para veteran. Dalam sambutannya, Bapak dari perwakilan veteran itu (aku lupa namanya) meminta kepada Pak Presiden untuk memberikan sumbangan sebagai penghargaan kepada para veteran.

Kemudian, dilanjutkan dengan pidato oleh Pak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Jujur ketika saya melihat Pak Presiden sedang berpidato, saya merasa seperti mimpi (hehe, maap kalo lebay). Tanya kenapa? Karena saya bisa melihat sesosok pemimpin negara saya. Tepat di depan mata saya -walaupun sekadar mellihat dari kejauhan hehe-.

Saya lupa dengan apa yang dipidatokan oleh Pak Presiden -maaf ya, Pak-. Entah mengapa ketika beliau berpidato, fokus saya berada pada hal lain. Ya, hal lain. Para veteran. Mereka duduk berjajar tepat di depan saya, memakai baju dengan warna-warna pastel. Aku melihat mereka yang kebanyakan tua renta. Bahkan ada pula yang duduk di kursi roda karena salah satu kakinya diamputasi (tapi gak tau alasan kakinya diamputasi, maklum saya nggak mewawancarai hehe). Namun, ada juga yang masih terlihat segar walaupun memang sudah tua. Mungkin umur mereka bervariasi ketika mereka dinobatkan sebagai pejuang negara. Hmm.. ya saya tidak tahu lebih lanjut mengenai itu.

Lalu, setelah beberapa menit berlalu, aku melihat beberapa orang, yang sebelumnya mengatur barisan kami, panik. Ada 1 orang yang berlarian. Tampaknya beliau mencari pertolongan. Tak lama, aku melihat seseorang berbaju warna pastel digendong oleh seorang pemuda berjas keluar dari gedung. Sesaat, suasana sudah menjadi normal kembali.

Tentunya melihat kejadian tersebut, saya dan teman-teman bertanya-tanya. Ada apa dengan bapak veteran itu? Terlintas di pikiran saya, mungkin beliau kekurangan oksigen. Ruangan tersebut sangat penuh dengan manusia (hehe, iyalah masa penuh dengan monyet =,="). Jadi, bisa saja kan beliau sesak napas.

Setelah acara selesai, Pak Presiden bersama rombongan keluar dari gedung. Disusul dengan kami, para siswa, guru dan veteran. Di luar gedung, kami disuguhkan nasi box. Sangat menggugah, mengingat saya dan teman-teman (pastinya orang-orang muslim) sedang berpuasa. Saya bukalah nasi box itu dan melihat menu apa yang tersedia. Hmm.. tidak terlalu menggugah selera ternyata =___=". Nasinya sangat banyak sedangkan lauknya sedikit. Ayamnya pun kecil. Teman-teman saya banyak yang mengeluh.

Tiba-tiba Pak Roni datang dan memberitahukan bahwa kami harus segera ke bus dan kembali ke sekolah. Saya spontan semangat! Di perjalanan menuju bus, salah seorang teman saya heboh bercerita. Dia bilang, ketika dia sedang berjalan dengan membawa box konsumsi tersebut, ia dihampiri oleh seorang veteran. Bapak veteran itu meminta izin untuk melihat isi nasi box yang dipegang oleh teman saya. Seketika teman saya membuka nasi box itu, beliau berkata, "Wah, masih mending ya, Nak. Coba lihat punya saya (menunjukkan isi box konsumsinya), kayak makanan kucing. Nanti pas saya sampai rumah, saya kasih kucing aja!". Teman saya melihat isi box konsumsi bapak veteran itu. Isinya hampir sama dengan milik kami, tetapi porsinya lebih sedikit.

Tersirat dibenak saya. Sungguh kasihan para pejuang itu. Mereka sepertinya tidak terlalu diperhatikan oleh pemerintah. Kehidupan pun mungkin tidak layak. Padahal mereka yang (atas izin Allah) membuat negara ini terbebas dari penjajahan. Namun, kenapa mereka tidak dihormati?

I wonder..............